Gaok; Kesenian Bertutur dari Majalengka

Kesenian Gaok adalah sejenis kesenian membacakan kidung-kidung dari kitab-kitab kuno yang biasanya menceritakan kisah atau babad dengan selipan petatah petitih jaman dulu. Kesenian Gaok ini dibacakan atau dilantunkan tidak dengan menggunakan alat musik. Kalaupun ada alat musik yang dimainkan biasanya hanya pada awal pembukaan ketika Gaok akan dimulai atau pada saat jeda sebelum sang pelantun gaok membacakan teks berikutnya. Jadi, jika dicari persamaan dengan kesenian kontemporer, kesenian gaok ini mirip dengan kesenian monolog.

Kata Gaok sendiri merupakan asal kata dari “gogorowok” dalam bahasa Sunda yang berarti berteriak, karena kesenian ini memang dibawakan dengan cara dinyanyikan menggunakan intonasi suara yang nyaris seperti berteriak. Di beberapa kampung di Majalengka, nama Gaok kadang juga disebut dengan istilah “wawacan” dari kata wawar ka nu acan (memberi tahu kepada yang belum mengetahui) dan biasanya dilakukan pada saat ritual  adat ‘ngayun’ (acara seminggu kelahiran bayi).     

Kesenian Gaok sendiri di Majalengka konon berkembang sejak jaman pemerintahan Pangeran Muhammad, yakni sekitar abad ke-15. Pada awal kemunculannya, kesenian Gaok ini merupakan sarana atau media dakwah agama Islam dimana pada saat itu belum banyak masyarakat Majalengka yang mengenal budaya baca. Dan karena menjadi sarana dakwah, maka kesenian Gaok inipun mengalami sinkretisme antara budaya Sunda dengan budaya Islam yang pada saat itu datang dari wilayah Cirebon dengan kerajaan Islam-nya.  

Salah satu tokoh yang berperan dalam mengembangkan kesenian Gaok di Majalengka diantaranya adalah Sabda Wangsaharja asal Desa Kulur pada kisaran tahun 1920-an. Bahkan, pada saat ini di Desa Kulur beberapa anak mudanya mengembangkan kesenian Gaok dan menggabungkannya dengan seni monolog yang notabene merupakan kesenian kontemporer. Hasil penggabungan dua kesenian inilah yang kemudian dikenal dengan kesenian Monolog Gaok.

 Berbeda dengan Gaok tradisonal, untuk Monolog Gaok yang diprakarsai oleh Bpk. Chik Hikmawan dan beberapa anak muda di sana, tema yang diangkat pun tidak lagi sebatas cerita atau babad masa lalu, tapi juga tema-tema yang lebih segar seperti tema lingkungan, sosial dan kadang sentilan-sentilan politik.

Runutan Acara Pada Prosesi Pernikahan Adat Sunda

Arsip Budaya Nusantara kali ini akan membahas acara prosesi  pernikahan adat Sunda, yang di dalamnya begitu kaya akan petatah-petitih dan lambang-lambang sebagai bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga agar tercipta rumah tangga yang tentram, sejahtera dan senantiasa diliputi kebahagiaan. Dan inilah runutan dari upacara sakral pada prosesi  pernikahan adat Sunda: 

1. Neundeun Omong 
Neundeun omong secara bahasa Indonesia bermakna Menaruh omongan. Pengertiannya adalah pihak keluarga dari calon mempelai laki-laki (biasanya adalah orang yang dituakan di keluarga pihak calon mempelai laki-laki) datang ke rumah pihak keluarga calon mempelai wanita untuk menyampaikan pesan bahwa pada hari yang ditentukan akan datang keluarga dari pihak calon mempelai laki-laki untuk melamar calon mempelai wanita. Tapi, di beberapa daerah, untuk ritual Neundeun Omong ini adalah dengan cara saling mengirim bingkisan berupa barang-barang tertentu seperti makanan dan sebagainya.  

2. Narosan (Lamaran) 
Narosan dalam bahasa Indonesia berarti menanyakan. Pada ritual Narosan ini, pihak keluarga dari calon mempelai laki-laki datang lagi ke rumah keluarga calon mempelai wanita untuk kali kedua. Proses narosan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya saat acara neunden omong. Berbeda dengan acara neunden omong, pada acara ini pihak keluarga calon mempelai laki-laki datang dengan jumlah yang lebih banyak serta membawa barang-barang tertentu  seperti  lemareun, pakaian perempuan, cincin meneng, dan beubeur tameuh (ikat pinggang kaum perempuan yang biasanya dipakai untuk melilit perut setelah melahirkan). Barang-barang tersebut tentunya memiliki arti masing-masing. Pembicaraan pada acara narosan ini lebih banyak membahas acara-acara kedepan yang berhubungan dengan acara pernikahan. 

3. Tunangan 
Selang beberapa hari atau minggu setelah acara narosan, kemudian dilanjutkan dengan acara tunangan. Tunangan ini sendiri, berbeda dengan ritual modern yang saling bertukar cincin, untuk acara tunangan di adat Sunda, barang yang dipertukarkan adalah beubeur tameuh (ikat pinggang kaum perempuan yang biasanya dipakai untuk melilit perut setelah melahirkan). Beubeur tameuh ini memiliki makna sebagai tanda adanya ikatan lahir batin antara kedua belah pihak. 

4. Seserahan 
Kalau acara seserahan ini digelar, itu artinya upacara pernikahan yang akan dilaksanakan sudah memasuki hitungan hari, yakni antara 3 sampai 7 hari sebelum upacara pernikahan digelar. Pada acara seserahan ini, calon mempelai laki-laki datang ke rumah calon mempelai wanita dengan membawa barang-barang keperluan rumah tangga seperti uang, baju, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya, untuk nantinya dipakai sebagai bekal awal dalam menjalankan biduk rumah tangga.  

5. Ngaras 
Ngaras adalah prosesi menjelang pernikahan, yakni prosesi untuk calon mempelai wanita meminta maaf dan doa restu kepada kedua orang tua dengan cara sungkem dan membasuh kaki kedua orang tua. Pada prosesi ini biasanya akan sangat menguras emosi dan air mata, karena inilah proses dimana detik-detik sang anak akan melepas masa lajangnya dan memulai kehidupannya sendiri. 

6. Ngibakan (Siraman) 
Ngibakan atau ngebakan adalah asal kata dari ibak yang berarti mandi. Jadi, secara bahasa ngibakan bermakna memandikan. Prosesi ngibakan biasanya dilakukan antara 2 – 3 hari menjelang pernikahan dan mengandung makna untuk membersihkan diri dari segala kotoran baik lahir maupun batin yang menempel pada tubuh kedua calon mempelai sebelum melangsungkan pernikahan. 

7. Ngeuyeuk Sereuh 
Ngeuyeuk sereuh berasal dari ngaheuyeuk yang berarti mengolah. Biasanya acara ini dilakukan bersamaan dengan prosesi seserahan. Acara ini biasanya dihadiri oleh kedua calon mempelai dengan keluarga dekat yang dilaksanakan pada malam hari sebelum dilakukan prosesi akad nikah. Prosesi ini dipimpin oleh nini pangeuyeuk (Juru rias). Kedua calon mempelai meminta restu kepada orang tua masing-masing. Lewat prosesi ini, orang tua memberikan nasehat-nasehat lewat lambang benda-benda yang disertakan dalam acara prosesi. 

8. Akad Nikah 
Seperti akad nikah pada acara pernikahan umumnya, prosesi ijab kabul kedua mempelai dilakukan pada hari yang telah disepakati bersama dan bertempat di rumah kediaman mempelai wanita. Pada acara sebelum akad nikah dilaksanakan, rombongan keluarga mempelai laki-laki datang ke rumah kediaman mempelai wanita sambil membawa barang-barang yang nantinya akan dipakai dalam acara akad nikah yakni mas kawin dan peralatan-peralatan lain untuk seserahan.  

9. Saweran 
Untuk acara saweran sendiri  adalah dilakukan beberapa saat setelah akad nikah selesai. Dan seperti yang kita tahu bersama, pada acara ini dari kedua keluarga (baik mempelai laki-laki maupun mempelai wanita) beramai-ramai melakukan saweran dengan diiringi lantunan kidung dari juru sawer. Isi kidung itu sendiri biasanya berupa nasihat-nasihat untuk mengarngi biduk rumah tangga agar rumah tangga yang dibangun diliputi rasa tentram dan kemakmuran. Kata saweran sendiri dalam bahasa Sunda merujuk pada benda di atap rumah tempat jatuhnya air hujan. Dan alat-alat saweran dinamakan bokor, yang didalamnya berupa uang logam untuk melambangkan kemakmuran, bulir beras yang melambangkan ketenangan dan permen untuk melambangkan manisnya kehidupan berumah tangga. 

10. Meuleum Harupat 
Dalam acara meuleum harupat ini bermakna sebagai pepeling bahwa tiap-tiap manusia dalam berumah tangga akan ada masa dimana masalah datang sebagai ujian dalam berumah tangga, untuk itu dengan adanya meuleum harupat ini sebagai nasihat bahwa ketika masalah itu datang harus dipecahkan secara bersama-sama. Meuleum harupat sendiri dalam bahasa Indonesia bermakna membakar harupat, yakni bagian dari tumbuhan aren yang mudah terbakar dan mudah sekali patah. Prosesi acaranya sendiri untuk meuleum harupat ini adalah pertama-tama mempelai pria memegang batang harupat, lalu pengantin wanita membakar dengan lilin hingga menyala. Harupat yang telah menyala lalu di masukkan ke dalam kendi berisi air yang di pegang mempelai wanita, untuk kemudian diangkat lantas di buang jauh-jauh. 

Demikianlah serangkaian upacara perkawinan adat Sunda yang begitu kaya akan petatah-petitih dan perlambang sebagai bekal untuk mengarungi biduk rumah tangga agar tercipta rumah tangga yang tentram, sejahtera dan senantiasa diliputi kebahagiaan.

Sedikit Rangkuman Kitab Putri Mulajadi

Kitab ini berisikan tentang kehidupan wanita hingga memperoleh anak termasuk para putri titisan Allah juga mengenai para ratu air.

Laklak Boru Debata (Kitab Putri Mulajadi)
Selama satu tahun, manuk-manuk hulambu jati mengeram tiga ruas bambu, kemudian dari tiga ruas bambu tersebut keluarlah tiga orang wanita yang bernama :
  1. Siboru Porti Bulan
  2. Siboru Malinbindabini
  3. Siboru Anggasana
Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda: “Wahai engkau Siboru Porti Bulan kimpoilah engkau dengan Batara Guru! Engkau boru Malimbindabini kimpoilah engkau dengan Debata Sori! Engkau Siboru Anggasana kimpoilah engkau dengan Debata Bulan!” Aku akan memberitahukan kepada kalian bagaimana terjadinya manusia selama sembilan bulan dalam kandungan ibu dan tiga bulan di kandung ayah. Jika delapan bulan dalam kandungan ibu, maka empat bulan dikandung ayah, sebab terjadinya manusia harus setelah tiga kali Panenabolon singgah di empat desa mengelilingi bumi ini, lalu aku akan memberikan kuasa kepada kalian agar menguasai air beserta isinya. Uruslah anak-anakmu kelak dan bantulah manusia yang tidak mempunyai keturunan”. Pada jaman dahulu kala dokter spesialis kandungan belum ada. Yang ada hanya dukun beranak (Sibaso Nabolon) yang mengurus sejak dikandungan sampai dilahirkan.

1. Kodrat Kandungan
Menurut orang Batak, khususnya Ugamo Malim terjadinya manusia menjalani rentang waktu selama dua belas bulan. Di dalam kandungan ibu hanya sembilan bulan, dimanakah tiga bulan lagi? Menurut orang Batak yang tiga bulan lagi dikandungan ayahnya, sebab jika tidak bersemayam dalam kandungan ayahnya selama tiga bulan, bagaimanapun si ibu tidak akan mengandung.

Terjadinya manusia dalam sembilan bulan.

Bulan I
Benih tiga bulan dalam kandungan Ayah Benih kejadian dalam Ibu Roh dari Rohani bercampur dengan Roh Jasmani ditambah kodrat Mulajadi berdiam dibumi suci di rahim ibu.

Bulan 2
Telah bertambah Debata na tolu dibumi suci mendapat getaran, Jika sudah ketemu berbentuk.

Bulan 3
Telah berada dalam bumi suci, dan sudah dapat berdenyut. Tambahan Debata na tolu masuknya warna merah, putih, hitam.

Bulan 4
Pada bulan keempat, sudah dalam proses pembentukan kulit. Pada saat ini Ibu mulai merasa mual, karena sudah mulai bergerak.

Bulan 5
Pada bulan kelima proses terjadinya otak manusia dalam bumi suci.

Bulan 6
Proses bulan keenam adalah proses terjadinya urat manusia dan sudah mulai bergerak.

Bulan 7
Pada bulan ketujuh proses terjadinya tulang.

Bulan 8
Pada bulan kedelapan bayi sudah hampir rampung dan sudah mulai bolak-balik, serta mulai terjadinya rambut.

Bulan 9
Proses pemisahan air ketuban
Proses pemisahan bungkus
Proses pemisahan tali-tali
Proses pemisahan darah pengiring maut
Dan tinggal menunggu hari lahirnya.

Setelah sembilan bulan dalam kandungan maka bayi tersebut mulai berputar, selama tujuh hari, tiba pada hari ketujuh setelah bayi tersebut berputar tujuh kali, maka pintu bumi pun terbuka dan bayi tersebut keluar kemudian menangis memulai hidup ke zaman mulia. Perlu kita ketahui bahwa selama hidup hanya satu kali kita bisa lihat wujud roh manusia yaitu ARI-ARI. 

2. Asal Kesempurnaan Hidup
Oleh sebab itu maka kita harus mengetahui adanya manusia sempurna pada keadaan yang sejati, seperti sang makhluk yang pulang pada zamannya. Jika telah terdesak dialamnya sendiri dan telah berwujud satu, maka akan lahir kedunia setelah :
Cahaya gemilang turun kepada bayi.Budi turun pulang kepada adjsan.Raksa turun pulang kepada miral.Rupa turun pulang kepada arwah.Warna turun pulang kepada wasdayat.Bau turun pulang kepada wahdat.Angan turun pulang kepada hadijat.Hidup turun pulang kepada insan.

Insan sempurna terang benderang dari kodrat Debata Natolu adalah pria dan wanita. Manusia yang sempurna didalam hidup di bumi suci setelah memiliki :
  • Kulit - Rambut
  • Otak - Daging
  • Urat - Darah
  • Tulang - Sumsum
Adapun empat saudara kelima darinya dalam wujud adalah :
  • Air tuban
  • Bungkus
  • Temburi (Ari-ari)
  • Darah pengiring budak
  • Pancar ( telah sempurna kepada kodrat Yang Maha Mulia selama-lamanya )
  • Hitam bernyala merah
  • Merah bernyala kuning
  • Kuning bernyala putih
  • Putih bernyala murni
  • Kulit bernyala daging
  • Kulit bernyala tulang
  • Tulang bernyala kawat (urat)
  • Urat bernyala cahaya ( kata nujum manusia sempurna di bumi suci )
Demikianlah ringkasan isi dari Kitab Putri Mulajadi atau Laklak Boru Debata. Semoga bermanfaat...


Megenal Tari Merak Asal Jawa Barat

Tari Merak adalah salah satu tari tradisional asal Jawa Barat yang menggambarkan ekspresi dan kehidupan burung merak. Dan lazimnya burung merak, tarian ini dibawakan oleh penari perempuan ini begitu anggun dan penuh pesona daya tarik. Dan seniman yang pertama kali menciptakan tari merak ini adalah seorang seniman Pasundan yang bernama Raden Tjetje Somantri  pada tahun 1950an. Beliau merangkum gerakan-gerakan burung merak dalam satu koreografi cantik nan anggun. Gerak utama yang menjadi ruh dari tari merak ini adalah gerakan burung merak jantan yang mengembangkan ekor indahnya untuk memikat merak betina. Maka tak heran, meski tarian ini dilakukan oleh penari perempuan tapi gerakan-gerakannya seperti gerakan merak jantan dalam menarik hati merak betina.

Namun, seiring berlalunya waktu, tari merak pun mengalami sedikit perubahan dari koreografi awalnya ketika diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, meski tentu saja tak menghilangkan ruh dari tarian tersebut. Adalah Dra. Irawati Durban Arjon, seniman yang kemudian menambahkan gerakan-gerakan baru pada tarian ini yang membuatnya makin kaya akan gerakan-gerakan indah. Sejarah Tari Merak tidak hanya sampai disitu karena pada tahun 1985 gerakan Tari Merak pun kembali direvisi dan ditambahkan gerakan-gerakan baru.

Mengenai kostum penari, sebagaimana nama tariannya, para penari memakai kostum  dengan motif dan warna yang berhungan dengan bulu merak. Kain dan bajunya menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak seperti warna hijau, biru dan hitam. Ditambah dengan sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang sedang dikembangkan. Para penari juga menggunakan mahkota yang makin menambah motif burung merak. 

Dengan kostum yang cantik itu, para penari (biasanya tiga atau lebih) akan menari bersamaan menggambarkan gerakan-gerakan burung merak nan indah. Dan dari penari yang menari secara berbarengan itu, masing-masing penari mengambil perannya masing-masing, yakni ada yang berperan sebagai merak jantan dan merak betina. Untuk iringan gendingnya sendiri, tarian ini biasanya dipentaskan dengan iringan gending Macan Ucul. Dan dalam salah satu babak tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan. Gerakan merak yang anggun dan mempesona tergambar dari gerakan Tari Merak yang penuh keceriaan dan keanggunan.  

Tari ini sering digunakan untuk menyambut pengantin pria atau sebagai hiburan untuk tamu dalam acara pernikahan. Selain itu karena kepopuleran Tari Merak, tari ini juga banyak ditampilkan dalam acara nasional dan internasional.

Menelisik Asal Usul Suku Bajo

Asal-usul Suku Bajo, atau yang biasa dijuluki dengan istilah manusia perahu, terdiri dari beberapa versi. Versi yang paling terkenal adalah bahwa Suku Bajo berasal dari para prajurit kerajaan Johor, Malaysia yang diperintahkan oleh raja mereka untuk mencari putri raja yang hilang di laut lepas. Dikabarkan bahwa pada masa itu sang putri raja bertamasya mengarungi lautan Nusantara. Tapi karena satu dan lain sebab, akhirnya sang putri hilang dan ktak kembali. Maka, atas titah raja, beberapa prajurit kerajaan ditugasi untuk mencari sang putri yang hilang dengan catatan tak boleh kembali ke kerajaaan apabila sang putri belum ditemukan.

Singkat cerita, karena sang putri tak juga ditemukan, akhirnya para prajurit itu memutuskan untuk tak kembali ke kerajaan dan memilih untuk menetap di perahu mengikuti arah angin yang membawa perahu mereka. Maka dari sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Hal ini menjadi yang kemudian menjadi cikal bakal adanya suku Bajo yang kemudian tinggal di atas perahu dan berpindah-pindah dan menyebar hingga seluruh nusantara.  

Versi lain menyatakan bahwa Suku Bajo berasal dari Vietnam dan Philipina. Argumen ini didasarkan pada banyaknya kemiripan bahasa yang digunakan Suku Bajo dengan bahasa Tagalog di Philipina dan Vietnam. 

Nama “Bajo” sendiri bukanlah nama asli dari suku ini. Suku Bajo menyebut diri mereka sebagai Suku Same, sementara sebutan untuk orang diluar suku mereka, mereka menyebutnya dengan istilah Suku Bagai. Kata Bajo sendiri oleh beberapa kalangan diyakini berasal dari kata yang berkonotasi bajak laut. Meski banyak kalangan yang membantah konotasi ini, menurut tutur yang berkembang bahwa pada jaman dahulu banyak dari bajak laut yang memang berasal dari Suku Same, yakni satu suku yang memang hidup dan tinggal di perahu ini dan menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun di bumi nusantara ini kerap di sama artikan sebagai suku Bajo. 

Pada Suku Bajo, dikenal empat kelompok masyarakat yang didasarkan pada karakteristik mereka dalam kaitannya dengan aktifitas mereka di lautan. Empat kelompok masyarakat ini dikenal dengan sebutan sebagai berikut;
  1. Kelompok Lilibu; yakni Suku Bajo yang biasanya mengarungi lautan hanya satu dua hari untuk mencari ikan dan jarak melautnya pun tidak terlalu jauh. Setelah ikan didapat, kelompok ini biasanya segera ‘pulang’ untuk bertemu keluarganya. Perahu kyang digunakan oleh kelompok ini biasanya berukuran kecil yang bernama soppe dan dikendalikan menggunakan dayung.
  2. Kelompok Papongka; yakni Suku Bajo yang bisa dikenali dengan aktifitas melautnya yang hanya seminggu dua minggu saja untuk mencari ikan. Perahu yang digunakan oleh kelompok ini hampir sama dengan kelompok Lilibu. Hanya saja, berbeda dengan kelompok Lilibu, jarak tempuh mereka bisa lebih jauh dan keluar pulau. Bila dirasa telah memperoleh hasil atau kehabisan air bersih, mereka akan menyinggahi pulau-pulau terdekat. Setelah menjual ikan-ikan tangkapan dan mendapat air bersih, mereka pun kembali ke laut. 
  3. Kelompok Sakai; yakni Suku Bajo yang memiliki kebiasaan mencari ikan yang wilayah kerjanya jauh lebih luas. Bila kelompok Papongka hitungannya hanya keluar pulau, maka kelompok Sakai hitungannya sudah antar pulau. Sehingga, waktu yang dibutuhkan pun lebih lama. Mereka bisa berada di “tempat kerja”nya itu selama sebulan atau dua bulan. Karena itu, perahu yang digunakan pun lebih besar dan saat ini umumnya telah bermesin. 
  4. Kelompok Lame; yakni Suku Bajo yang bisa dikategorikan nelayan-nelayan yang lebih modern. Mereka menggunakan perahu besar dengan awak yang besar dan mesin bertenaga besar. Karena, mereka memang bakal mengarungi laut lepas hingga menjangkau negara lain. Dan, mereka bisa berada di lahan nafkahnya itu hingga berbulan-bulan. 


Kepercayaan dan Adat Istiadat Suku Bajo
Meskipun Suku bajo beragama Islam, namun mereka masih hidup dalam dimensi leluhur. Budaya mantera-mantera, sesajen serta kepercayaan roh jahat masih mendominasi kehidupan mereka. Peran dukun masih sangat dominan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk menolak bala atau memberikan ilmu ilmu. Orang Bajo sangat mempercayai setan-setan yang berada di lingkungan sekitarnya. Rumah dan dapur-dapur mereka. Mereka percaya pantangan-pantangan dan larangan, seperti misalnya larangan meminta kepada tetangga seperti minyak tanah, garam, air atau apapun setelah magrib. Mereka juga percaya dengan upacara tebus jiwa. Melempar sesajen ayam ke laut. Artinya kehidupan pasangan itu telah dipindahkan ke binatang sesaji. Ini misalnya dilakukan oleh pemuda yang ingin menikahi perempuan yang lebih tinggi status sosialnya. Masyarakat Suku Bajo menyebut rumah palemana atau rumah di atas perahu. Karena masyarakat Suku Bajo bermukim dan mencari nafkah diatas laut. Karena itulah mereka mendapat julukan sebagai manusia perahu.

Menurut masyarakat Suku Bajo bahwa pemanasan global sekarang, orang-orang Bajo kesulitan memantau perubahan iklim. Padahal biasanya mereka sangat presisi dalam mengantisipasi. Gelombang pasang, letusan gunung berapi bisa diprediksi jauh hari sebelumnya. Untuk berlayar di siang hari, pada saat mereka tidak bisa melihat pantai, mereka mengandalkan ombak dan angin. Pada malam hari, bintang bintanglah yang menunjukan jalan. Mereka menyebut bintang itu mamau atau karangita. Mamau atau karangita bisa menjadi penunjuk arah yang dituju. Suku Bajo, memiliki keyakinan penuh atas sebuah ungkapan, bahwa Tuhan telah memberikan bumi dengan segala isinya untuk manusia. Keyakinan tersebut tertuang dalam satu Falsafah hidup masyarakat Bajo yaitu, ‘Papu Manak Ita Lino Bake isi-isina, kitanaja manusia mamikira bhatingga kolekna mangelolana‘, artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakannya. Sehingga laut dan hasilnya merupakan tempat meniti kehidupan dan mempertahankan diri sambil terus mewariskan budaya leluhur suku Bajo. Dalam suku Bajo, laki-laki atau pria biasa dipanggil dengan sebutan Lilla dan perempuan dengan sebutan Dinda.